Situs
Purbakala Patiayam, Gading Gajah dan Manusia Purba
Bukit Patiayam merupakan bagian dari
Gunung Muria. Luasnya mencapai 2.902,2 hektar, yang tersebar di wilayah
Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus ( 1.573,5 hektar) Antara lain Stegodon trigono chepalus (sejenis
gajah purba), Elephas sp (juga jenis gajah), Cervus zwaani dan Cervus lydekkeri
martin ( sejenis kera), Rhinoceros sondaicus ( sejenis badak), Susbrachygnatus
dubvis (babi), Felis sp (harimau), Bos bubalus palaeokerabau ( sejenis kerbau),
Bos banteng palaeo sondaicus ( sejenis banteng) dan Cocrodillus sp ( buaya). Akhir
November 1982, Sukarmin, warga Desa Terban Kecamatan Jekulo (Kudus)
juga menemukan dua fosil gading gajah di Gunung Nangka (bagian dari Bukit
Patiayam), Selama dua hari terjun ke
lapangan, Tim Balar menyimpulkan, fosil-fosil yang ditemukan di Situs Patiayam
menunjukkan rentang waktu 1 juta hingga 500.000 tahun lalu. “Mereka,
manusia dan binatangnya hidup di daerah kaki Gunung Muria, pada suatu
lingkungan purba yang sangat intensif dikenai aktvitas volkanik Gunung Muria.
Suatu persoalan yang belum terjawab adalah bagaimanakan bentuk budaya dari
manusia purba (homo erectus), karena hingga saat ini belum ditemukan
hasil budayanya,” ujar Harry Widianto.
Awal November 2006, Sagiyo warga Desa Patiayam menemukan dua buah
fosil kerang raksasa yang diperkirakan berumur satu juta
hingga 700.000 tahun .Fosil ini masih cukup lengkap , mulus,
berukuran lebar sekitar 30 centimeter, sehingga dengan mudah
dikenali sebagai bentuk kerang laut, namun ukurannya antara tujuh hingga
sepuluh kali lipat dengan kerang yang ada sekarang (pada umumnya).. Penemuan
terus berlanjut, yaitu berupa dua fosil gading gajah purba (
stegodon trigono chepalus sp).oleh Mustakim (25) dan Karmijan (45) warga Desa
Terban. Masing-masing berukuran panjang 2, 70 meter dengan lingkar
pangkal 61 centimeter, lingkar ujung 28 centimeter dan panjang 2,25
meter, lingkar pangkal 51 centimeter, lingkar ujung 15 centimeter. Bertempat
tinggal di seputar daerah danau dan sungai Hidup berkelompok
hingga 30 ekor. Tidurnya malam hari di dalam lumpur atau air,
namun pada malam hari keluar mencari makan, yaitu rerumputan..Ia
menambahkan, dari sebagian anggota badan yang berhasil
diidentifikasi, maka Kuda Nil diperkirakan pernah hidup bersama
binatang purba lainnya di kawasan Gunung Muria.“Untuk umurnya masih akan
diteliti lebih lanjut,” ujarnya. Selain berhasil mengindentifikasi Kuda
Nil, Tim Peneliti juga telah bisa memastikan jika lima buah alat batu
yang ditemukan tim pada November 2007 dan dijadikan peralatan bagi manusia
purba atau homo erectus, bukan asli dari kawasan Gunung Muria. “Ini
merupakan kasus sangat menarik untuk terus diteliti dan dikembangkan.
Termasuk jalur perjalanan gajah purba apakah dari barat atau timur.”
tambah Siswanto.
5 komentar:
menarik ceritanya....
jooooooos
apik ee ,,
owh ngunu crtne ,,
bguss ,,
Posting Komentar