Senin, 02 September 2013

Asal Usul Pati Ayam




Situs Purbakala Patiayam, Gading Gajah dan Manusia Purba
Bukit Patiayam merupakan bagian dari Gunung Muria. Luasnya mencapai 2.902,2 hektar, yang tersebar di wilayah Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus ( 1.573,5 hektar)  Antara lain Stegodon trigono chepalus (sejenis gajah purba), Elephas sp (juga jenis gajah), Cervus zwaani dan Cervus lydekkeri martin ( sejenis kera), Rhinoceros sondaicus ( sejenis badak), Susbrachygnatus dubvis (babi), Felis sp (harimau), Bos bubalus palaeokerabau ( sejenis kerbau), Bos banteng palaeo sondaicus ( sejenis banteng) dan Cocrodillus sp ( buaya). Akhir November 1982,  Sukarmin, warga Desa Terban Kecamatan Jekulo (Kudus)  juga menemukan dua fosil gading gajah di Gunung Nangka (bagian dari Bukit Patiayam),  Selama dua hari terjun ke lapangan, Tim Balar menyimpulkan, fosil-fosil yang ditemukan di Situs Patiayam menunjukkan rentang waktu  1 juta hingga 500.000 tahun lalu. “Mereka, manusia  dan binatangnya hidup di daerah kaki Gunung Muria, pada suatu lingkungan purba yang sangat intensif dikenai aktvitas volkanik Gunung Muria. Suatu persoalan yang belum terjawab adalah bagaimanakan bentuk budaya dari manusia purba (homo erectus), karena hingga saat ini belum  ditemukan hasil budayanya,” ujar  Harry Widianto.  Awal November 2006,  Sagiyo warga Desa Patiayam menemukan dua buah fosil kerang raksasa yang  diperkirakan  berumur  satu juta hingga 700.000 tahun .Fosil ini masih cukup lengkap , mulus,  berukuran   lebar sekitar 30 centimeter, sehingga  dengan mudah dikenali sebagai bentuk  kerang laut, namun ukurannya antara tujuh hingga sepuluh kali lipat dengan kerang yang ada sekarang (pada umumnya).. Penemuan terus berlanjut, yaitu  berupa dua  fosil gading gajah purba ( stegodon trigono chepalus sp).oleh Mustakim (25) dan Karmijan (45) warga Desa Terban. Masing-masing berukuran  panjang 2, 70 meter dengan lingkar pangkal  61 centimeter, lingkar ujung 28 centimeter dan panjang 2,25 meter, lingkar pangkal 51 centimeter, lingkar ujung 15 centimeter. Bertempat  tinggal di  seputar daerah danau dan sungai  Hidup berkelompok hingga  30 ekor.  Tidurnya malam hari  di dalam lumpur atau air, namun pada malam hari  keluar mencari makan, yaitu rerumputan..Ia menambahkan,  dari sebagian  anggota badan yang berhasil diidentifikasi, maka  Kuda Nil diperkirakan  pernah hidup bersama binatang purba lainnya di kawasan Gunung Muria.“Untuk umurnya masih akan diteliti lebih lanjut,” ujarnya. Selain  berhasil mengindentifikasi Kuda Nil,  Tim Peneliti juga telah bisa memastikan jika lima buah alat batu yang ditemukan tim pada November 2007 dan dijadikan peralatan bagi manusia purba atau homo erectus, bukan asli dari  kawasan Gunung Muria. “Ini merupakan kasus sangat menarik untuk terus diteliti dan dikembangkan. Termasuk  jalur perjalanan gajah purba apakah dari barat atau timur.” tambah Siswanto.


5 komentar:

Unknown mengatakan...

menarik ceritanya....

Unknown mengatakan...

jooooooos

Anonim mengatakan...

apik ee ,,

Unknown mengatakan...

owh ngunu crtne ,,

Unknown mengatakan...

bguss ,,

Posting Komentar

Template by:
Free Blog Templates